PELATIHAN PENGASUHAN BERBASIS MODERASI BERAGAMA MELALUI KEARIFAN LOKAL DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

Sabtu, 23 November 2024, Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini, Universitas Darunnajah melakukan pengabdian masyarakat di Kabupaten Gunungkidul tepatnya di kampung Hanacaraka. Pengabdian masyarakat yang berjudul Pelatihan Pengasuhan Berbasis Moderasi Beragama Melalui Kearifan Lokal Di Kampung Hanacaraka bertujuan untuk memberikan wawasan moderasi beragama yang selaras dengan nilai-nilai kearifan lokal seperti welas asih, tepo seliro dan sopan santun.

Pelatihan ini diikuti oleh sekitar 30 orang tua orang tua milenial. turut hadir lurah desa ngeposari dan dukuh kampung hanacaraka, Semuluh lor, Gunungkidul. Dalam sambutannya, Ketua Tim Pengabdian, Dwi Puji Lestari menjelaskan bahwa pendekatan pengasuhan berbasis moderasi beragama sangat relevan di tengah masyarakat yang majemuk. “Melalui pelatihan ini, kami ingin menanamkan nilai toleransi, cinta kasih, dan penghormatan terhadap perbedaan kepada anak-anak sejak usia dini,” ujar beliau. Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan komunitas dalam mendukung pengasuhan yang lebih efektif.

Kegiatan ini meliputi beberapa sesi, antara lain:

  1. Pengasuhan Berbasis Moderasi Beragama – Peserta diberikan pemahaman mengenai konsep moderasi beragama sebagai upaya membangun harmoni sosial.
  2. Pengasuhan Berbasis Kearifan Lokal – Peserta diajak menggali nilai-nilai lokal seperti gotong-royong, kejujuran, dan saling menghormati yang relevan dalam mendidik anak.
  3. Simulasi dan Diskusi Kelompok – Peserta diberi kesempatan untuk merancang strategi pengasuhan berbasis nilai lokal yang dapat diterapkan di keluarga masing-masing.

Salah satu narasumber, Sri Hartini, menjelaskan bagaimana kearifan lokal seharusnya dapat membentuk karakter anak yang memiliki jiwa welas asih, sopan santun dan tepo seliro sehingga dapat mendukung persatuan dan kesatuan bangsa. Peserta mengaku mendapat banyak wawasan baru dari pelatihan ini. “Saya jadi lebih paham bagaimana mengajarkan anak untuk menghormati perbedaan tanpa kehilangan identitas budaya dan agama kami,” kata Emi, orang tua yang mengikuti pelatihan.

 

Kegiatan ini diakhiri dengan penyusunan rencana tindak lanjut berupa pembentukan kelompok pengasuh moderasi, yang akan berperan sebagai wadah untuk berbagi pengalaman dan penguatan kapasitas masyarakat dalam pengasuhan berbasis nilai-nilai kearifan lokal.

Melalui pelatihan ini, diharapkan masyarakat Kampung Hanacara yang merupakan kampung budaya  dapat menjadi contoh nyata penerapan pengasuhan berbasis moderasi beragama yang selaras dengan kearifan lokal, sehingga melahirkan generasi yang toleran, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Bagikan:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *